Selasa, 07 Agustus 2018

Justified - Telah Dibenarkan


Justified memiliki arti telah dibenarkan atau sudah dinyatakan benar.
Dasar dari justifikasi adalah kondisi/keadaan benar (righteousness).
Siapakah yang berwenang menjustifikasi manusia? Tentunya Allah yang Maha Benar dan Maha Adil.
Allah melihat segala perbuatan manusia selama hidup dan menghakimi apakah seseorang benar atau berdosa. Jika ia benar, ia akan dinyatakan benar (justified), jika ia berdosa, ia akan dihukum.

Nah, Allah kita yang luar biasa ini ternyata memperkenalkan manusia pada suatu sistem.

Imamat 21-22, 30
dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu.
 

Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun.  
Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN.

Tuhan Allah mengajarkan kepada manusia sistem pemindahan atau transfer, dalam hal ini pemindahan kebenaran (righteousness) dan pemindahan dosa.

Dosa seluruh umat Israel dipindahkan ke kambing jantan sehingga kambing jantan jadi berdosa, sedangkan umat Israel menikmati ketidakbercacat-celaan dari kambing jantan tersebut (karena wajib mempersembahkan kambing jantan yang sempurna-tidak bercacat cela).

Inilah sistem transfer or sin and transfer of righteousness.

Sistem yang Allah perkenalkan ini adalah bayangan dari apa yang secara aktual akan terjadi (dan telah terjadi), yaitu the grand atonement of all mankind by Jesus Christ.

Ibr 10:1

Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya.

Okelah, anggap saja dosa manusia boleh ditimpakan ke kambing jantan namun apakah kesempurnaan kambing jantan berimbang untuk manusia?
Masa sih kita kesempurnaan kita setara kambing?
Ya kalaupun mau dibilang sempurna, maka kesempurnaan kambing hanya untuk periode satu tahun. Tahun depan sembelih kambing lagi.
Maka itu sistem yang Tuhan perkenalkan dalam Taurat adalah bayangan saja, suatu gambaran ilustrasi yang tidak sempurna.

Yohanes Pembaptis berbicara tentang Yesus Kristus.

Yoh 1:29
Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

Dengan mengatakan ini, Yohanes Pembaptis merujuk pada proses transfer of sin and righteousness yang terjadi dalam upacara pendamaian.

Nah, Sang Anak Domba Allah hidup melayani Allah dengan tidak bercacat-cela, tidak berdosa. Ia taat sepenuhnya pada Bapa, hidup menuruti Taurat bahkan melebihi Taurat. Allah mendeklarasikan bahwa Yesus Kristus berkenan kepadaNya dalam segala hal. Ia sempurna mengikuti Bapa.

Yesus Kristus, Sang Anak Domba Allah adalah manusia dengan kondisi kebenaran sempurna (perfect righteousness) dan itu adalah kebenaran diriNya sendiri. Ia sendiri hidup taat dan benar di hadapan Allah.

Karena Ia terbukti layak sebagai Anak Domba Allah, maka dalam proses penyaliban, dosa dari seluruh dunia ditransfer ke Anak Domba Allah dan kebenaran (righteousness) dari Yesus Kristus ditransferkan kepada dunia.

------

Apa hubungannya ini dengan justification?

Proses justification (Allah menyatakan seorang berkondisi benar) terjadi dalam 2 metode, silakan pilih salah satu.

Metode pertama,
Seorang dihakimi berdasarkan perbuatan-perbuatannya sendiri, apakah ia benar atau berdosa. Saya mungkin akan menyebutnya formal (law-based) righteousness. Jika ia berdosa maka ia dihukum, jika ia tidak berdosa maka ia dinyatakan benar dan berhak menikmati segala kekekalan bersama Allah.

Metode kedua,
Imputed righteousness, yaitu seorang dihakimi berdasarkan kondisi kebenaran di luar dirinya. Bisakah begitu? Allah sendiri yang memberikan model imputed righteousness berdasarkan apa yang Ia gambarkan di Taurat (ketika Harun memindahkan dosa ke kambing jantan dan kesempurnaan kambing jantan dipindahkan ke umat).
Imputed righteousness ini metode yang Allah sediakan karena manusia tidak mungkin ditemukan tidak berdosa dan tidak bercacat cela melalui metode pengadilan formal.
Dunia dapat menikmati imputed righteousness ini melalui iman.

Apabila seseorang beriman pada Yesus Kristus, Sang Anak Domba Allah, maka kepadanya dikenakan kebenaran Kristus yang sempurna (righteousness of Christ) dan dosa-dosanya dihalau keluar dari dia. Di mata Allah, orang itu berpakaian kebenaran sempurna sehingga ia justified (dinyatakan benar oleh Allah).
Dasar justifikasinya adalah kebenaran Kristus, bukan kebenaran dirinya sendiri.

Anda masih ragu dengan imputed righteousness?
Kita lihat sebuah contoh yang langsung mengarah pada gambaran Sang Tunas.


Za 3:1-5
Kemudian ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia. Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepada Iblis itu: "TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis! TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau! Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?"
Adapun Yosua mengenakan pakaian yang kotor, waktu dia berdiri di hadapan Malaikat itu, yang memberikan perintah kepada orang-orang yang melayaninya: "Tanggalkanlah pakaian yang kotor itu dari padanya." Dan kepada Yosua ia berkata: "Lihat, dengan ini aku telah menjauhkan kesalahanmu dari padamu! Aku akan mengenakan kepadamu pakaian pesta." Kemudian ia berkata: "Taruhlah serban tahir pada kepalanya!" Maka mereka menaruh serban tahir pada kepalanya dan mengenakan pakaian kepadanya, sedang Malaikat TUHAN berdiri di situ. 

Lalu Malaikat TUHAN itu memberi jaminan kepada Yosua, katanya: 
"Beginilah firman TUHAN semesta alam: Apabila engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan melakukan tugas yang Kuberikan kepadamu, maka engkau akan memerintah rumah-Ku dan mengurus pelataran-Ku, dan Aku akan mengizinkan engkau masuk ke antara mereka yang berdiri melayani di sini. 
Dengarkanlah, hai imam besar Yosua! Engkau dan teman-temanmu yang duduk di hadapanmu--sungguh kamu merupakan suatu lambang. Sebab, sesungguhnya Aku akan mendatangkan hamba-Ku, yakni Sang Tunas. 

Allah menanggalkan pakaian kotor Yosua lalu mengenakan padanya pakaian pesta dan serban tahir. Pakaian kotor itu lalu dibuang jauh-jauh.

Yosua ngapain?
Berdiri saja. 

Itu pakaian pesta siapa yang buat dan siapa yang punya?
Tuhan.


Tuhan mengerjakan dan menyediakan segala sesuatunya, Yosua pasrah saja.
Tuhan lalu membenarkan Yosua oleh proses yang tidak Yosua kerjakan.
Barulah sesudah proses transfer ini Tuhan memberikan perintah selanjutnya, bukan sebelumnya.

Itulah transfer of righteousness dari Kristus.
Kristus yang taat 100%, kita yang menerima kebenarannya tanpa melakukan apa-apa, lalu Allah membenarkan kita atas apa yang kita tidak lakukan tetapi Kristus lakukan.

------

Justification was a one time event

Pada saat Imam Besar meletakkan tangannya ke kepala kambing, di saat itulah terjadi proses justifikasi dari Allah kepada umatNya.
Allah menjustifikasi umatNya sesudah dosa-dosa umat ditransferkan ke kepala kambing.

Jadi proses justifikasi Allah terjadi setiap 1 tahun sekali melalui upacara pendamaian (kambing jantan ternyata hanya bisa memberi 365 hari kesempurnaan - itupun kesempurnaan skala kambing - jika mau ya silakan 😁).

Setiap tahun, ketika seorang umat datang ke Yerusalem untuk upacara pendamaian, ia menyadari bahwa ia akan menghadap pengadilan Tuhan untuk membereskan dosa-dosanya, ia selalu diingatkan dalam hati dan pikirannya bahwa ia membawa dosa dan butuh kambing-penebusan. Ia setiap tahun akan datang dengan kondisi dan status orang berdosa yang butuh dibenarkan oleh Allah melalui kebenaran yang bukan dari dirinya sendiri.
Bisa teman-teman bayangkan? Setiap tahun ia menempuh proses justifikasi.

Anda bayangkan setiap tahun sekali Anda harus menghadap pengadilan karena semua kesalahan yang Anda buat pada tahun tersebut dan setiap kali Anda harus membawa uang tebusan bagi kesalahan Anda.
Apa jadinya Anda? Apakah Anda merasa orang bebas? Ataukah Anda akan merasa seperti orang rendah dari yang rendah?

Tidak heran,
Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya (Ibr 10:1b).

Bagaimana mau sempurna jika yang muncul di kepala Anda adalah keberdosaan Anda? 
Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa (Ibr 10:3). 

Lembu, domba dan kambing dunia tidak bisa menghapus dosa, mereka hanya menunda proses pengadilan untuk 1 tahun ke depan yang terus berulang sampai Anda mati.
Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa (Ibr 10:4).  

Apa yang dilakukan Anak Domba Allah?

Ibr 10:10-14
Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. 

Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. 
Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. 
Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.

Anak Domba Allah hanya butuh satu kali saja pengorbanan untuk seluruh dunia dan segalanya sempurna (ini membuktikan kualitas Anak Domba Allah, yaitu kualitas righteousnessNya dan kualitas keilahianNya yang sufficient memberikan kebenaran bagi seluruh manusia oleh satu kali saja pengorbanan).

Jadi semua orang yang beriman pada Yesus Kristus, berapa kalikah kita menjalani proses justifikasi? Kita dibenarkan berapa kali?
Hanya satu kali saja, yaitu saat kita beriman pada Yesus Kristus.

Ketika kita beriman pada Yesus Kristus, proses transfer terjadi, kebenaran Kristus dikenakan pada kita, dosa kita dikenakan pada Kristus dan selesai, kita justified by God. Kita tidak perlu datang lagi untuk justifikasi kedua atau ketiga atau keempat atau berikutnya.

Kini kita tidak lagi mengingat diri kita sebagai orang berdosa tetapi mengingat bahwa kita orang yang sudah dinyatakan benar oleh Allah. 
Jikapun kita menghadap Allah karena ada berbuat dosa (karena kita masih tinggal di dunia dalam tubuh fana), maka pokok perhatian kita adalah pembenaran yang Allah sudah lakukan. 

Inilah kabar gembira Injil.
Kita sudah dinyatakan benar oleh Allah hanya satu kali saja saat kita beriman, proses pembenaran ini tidak perlu diulang, cukup satu kali saja. Dasar pembenaran ini adalah kesempurnaan Kristus, bukan kondisi kita. Sampai kapanpun kita tetap dinyatakan benar karena kesempurnaan Kristus dan tidak pernah karena kondisi kita.
Inilah perbuatan Allah yang luar biasa bagi kita karena kondisi kita tidak pernah bisa membenarkan kita oleh sebab kita tidak akan pernah sempurna.
 ------

Pengudusan

Ini yang menarik.
Jika kita sudah dibenarkan satu kali untuk selamanya, lalu apa peran pengudusan?

Mungkin saya singkat saja untuk hal ini.
Pengudusan (sanctification) adalah proses yang Roh Kudus kerjakan dalam diri kita melalui kasih karuniaNya (grace) agar kita menjadi semakin serupa Kristus dalam pikiran, kehedak dan perbuatan sehingga kita bisa mengalami hidup yang penuh sebagai manusia.

Seorang celebrity chef ternama dan seorang desainer brand terkemuka membunuh dirinya di puncak kesuksesan mereka. 
Mengapa?
Mungkin karena mereka tidak menemukan kepenuhan hidup, makna hidup dan gairah hidup sekalipun secara ukuran duniawi mereka punya akses pada segala hal yang buat saya ngiler. Mereka kaya, terkenal, banyak pengikut, punya warisan, punya keluarga  namun mereka tidak merasa cukup hingga akhirnya bunuh diri.

Pengudusan adalah untuk kita, bukan untuk Tuhan.
Kita menjalani pengudusan agar hidup kita penuh dan bermakna, bukan untuk dibenarkan oleh Tuhan. Tuhan hanya membenarkan karena kebenaran Kristus sebab Kristus sajalah satu-satunya yang memenuhi standar Allah yang sangat tinggi.

Apakah kebenaran kita sendiri pasti bisa memenuhi standar Allah? 
Gak mungkin.

Proses pengudusan kita, kondisi personal righteousness kita tidak pernah menjadi dasar justifikasi oleh Tuhan. Jika dijadikan dasar, tidak akan ada yang selamat.

-----

Can the justified become unjustified

Ini pertanyaan problematik yang menimbulkan dispute dalam beberapa denominasi.
Saya berusaha tidak mau pusing dengan perdebatan, jadi saya coba 'main aman' (padahal sih ngga aman-aman banget).

Gal 5:1-4
Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. 

Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. 
Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.

Dua nasihat (sebetulnya lebih tepat disebut peringatan - tapi beberapa orang mungkin sensitif dengan peringatan) dari Paulus:
  • Jangan sampai lepas dari Kristus. Artinya jangan sampai kehilangan iman. Kita dibenarkan oleh iman pada Yesus Kristus, jangan lepas iman ini. Bagi yang berpendapat kita tidak mungkin kehilangan iman, ya syukurlah, yang penting tahu untuk tidak sampai kehilangan iman.
  • Jangan berpindah dari mengandalkan imputation righteousness ke mengandalkan personal righteousness. Jangan kehilangan pandangan kita atau lupa bahwa kita sudah dibenarkan Allah oleh kebenaran Yesus Kristus semata. Personal righteousness tidak pernah menggantikan imputation righteousness sebagai dasar justifikasi. Jika kita tidak lagi mengandalkan kebenaran Kristus sebagai pakaian kita, hati-hati.
Tuhan Yesus memberkati kita semua.




Senin, 06 Agustus 2018

Disease or Sin? On Homosexualism


Mat 19:12
Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti." 

Saya tidak membahas semua dari ayat tersebut, saya hanya ingin mencatat bagian:
...dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga...

Belakangan ini kita mendengar dan terekspose pada banyak informasi terkait LGBT (Lesbianism, Gay, Bixesual, Transgender) plus ada lagi Q (Queer), nanti ditambah lagi I (Intersex) dan kelak akan ada tambahan-tambahan lainnya. Dalam kesempatan ini izinkan saya membatasi hanya membahas homosexualism, yaitu lesbianism dan gay (termasuk di dalamnya bisexualism).

Persepsi umum orang Kristen terhadap homoseksualitas adalah dosa. 
Persepsi umum mengganggap ketertarikan seksual pada sesama jenis adalah dosa, demikian juga hubungan seksual dengan sesama jenis adalah dosa. Kedua-duanya adalah dosa yang sama dan setara.

Dahulu saya juga menganggap demikian. Sekarang saya membedakan keduanya.

Saya pernah bertemu dan ngobrol dengan seorang Kristen, dia menjadi pengurus youth di gerejanya. Dia punya ketertarikan pada sesama jenis (dan mungkin juga sudah pernah berhubungan seks dengan sesama jenis saya tidak bisa memastikannya). 
Puji Tuhan, dia sadar akan kondisinya dan ingin berubah. Dia tidak ingin lagi punya ketertarikan seksual pada sesama jenis, dia ingin tertarik secara seksual pada lawan jenis. Ia ingin hidup normal. Ia sudah ikut beragam KKR, ikut kesembuhan ilahi, ikut retret, doa setiap hari, doa pelepasan dan sebagainya namun hingga detik ia bicara pada saya ia tetap tidak tertarik secara seksual pada lawan jenis dan masih tertarik secara seksual pada sesama jenis.

Kisah itu mengubah pandangan saya. Saya yakin di luar sana dia tidak sendiri. Ada orang-orang yang ingin sekali berubah dari orientasi seksual sesama jenis ke orientasi seksual lawan jenis. Mereka coba terapi, coba doa, coba kawin dengan lawan jenis, coba banyak hal namun tidak bisa senormal orang-orang lainnya. Salah satunya ya orang yang ngobrol dengan saya, yang berpaling kepada Tuhan minta pemulihan namun ia belum mendapatkannya.

Kemudian saya teringat ayat di atas.
...dan ada orang yang membuat dirinya demikian (tidak kawin) karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga...

Begini teman-teman,
Saya tidak ingin membahas dari mana homoseksualitas bermula, apakah masalah hormon, apakah pelecehan, apakah trauma, apakah modeling atau apapun. Saya hanya membahas orang-orang yang sudah memiliki ketertarikan seksual pada sesama jenis.

Pemikiran praktis dari saya adalah,
Bagi mereka yang datang kepada kita dengan masalah ketertarikan seksual pada sesama jenis, maka kita doakan pelepasan kepada mereka. Saya punya keyakinan roh jahat dan kuasa gelap mengikat orang-orang ini.
Kita usir kuasa gelapnya, kita doakan pengampunan (juga jika ia sudah melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis), kita doakan agar mereka tidak lagi punya ketertarikan seksual dengan sesama jenis melainkan dengan lawan jenis dan bisa hidup normal.

Apabila kita sudah doakan demikian dan secara faktual ia tetap tertarik secara seksual dengan sesama jenis, tidak dengan lawan jenis, kita posisikan dia sebagai seorang yang menderita sakit penyakit, kita dorong untuk dia terus berdoa minta kesembuhan sambil kita ingatkan agar ia tidak melakukan hubungan seksual sesama jenis.

Permasalahan yang saya lihat, orang Kristen secara umum mempersepsikan ketertarikan seksual seseorang pada sesama jenis sebagai dosa. Karena ini dipandang sebagai dosa, maka ini menimbulkan tekanan rasa bersalah pada orang-orang yang mengalaminya sekalipun mereka tidak lagi melakukan hubungan seksual sesama jenis.

Tekanan rasa bersalah membuat hidup mereka berat, terus merasa rendah diri, mendakwa diri mereka sendiri, tidak damai sejahtera seolah tidak ada harapan dan merasa terhukum di hadapan Tuhan. Segala hal ini membuat mereka tidak punya cukup kekuatan untuk berbuah. Lama-kelamaan dalam situasi ini, mereka akan lari ke aktivitas yang paling bisa melegakan mereka. Tebak apa? Tentu saja hubungan seksual sesama jenis.

Coba saya cek, jika ada seseorang menderita diabetes dan ia sudah minta kesembuhan pada Tuhan, mungkin juga sudah didoakan pelepasan dari kuasa gelap dan sesudah berdoa ia belum sembuh dari diabetesnya, apakah kita menganggap kondisi diabetesnya sebagai dosa?

Tentunya tidak.
Diabetesnya adalah penyakit, diaturlah dietnya sambil terus berdoa. Jika ia sudah tau diabetes namun tetap melawan dietnya, itu barulah tindakan dosa.

Jika seorang dengan orientasi seksual sejenis sudah minta ampun, maka Tuhan ampuni;
Jika ia doa pelepasan maka ia sudah dilepaskan; 
Apabila ia tetap punya tendensi orientasi seksual sejenis, apakah ia masih berdosa?
No, itu penyakit. Diaturlah pergaulannya, diaturlah aktivitasnya, dikendalikanlah pandangannya, tapi jangan disebut dosa.
Barulah dosa jika ia bandel dan melakukan hubungan seksual sejenis.

Tidak semua penyakit disembuhkan seketika oleh Tuhan,
Tidak semua penyakit dinormalkan seketika oleh Tuhan.

Misalnya orang yang kena narkoba.
Narkotika merusak saraf-sarafnya.
Ketika bertobat, ia dibersihkan dari narkoba, ia minta ampun, didoakan pelepasan sehingga ia bersih dan kudus.
Namun apakah ia seketika normal? Belum tentu, tergantung keparahan penyalahgunaan narkobanya.
Cara bicaranya belum tentu normal, bisa jadi lebih lamban, pola pikirnya belum tentu normal, bisa jadi tidak secerdas dulu, kebiasaannya belum tentu normal, kurang bisa tidur. Kita tidak bisa memaksakan dan mengharapkan dalam satu malam Tuhan ubah dia normal sebagaimana orang yang belum pernah menyentuh narkoba.
Ketidaknormalan tersebut bukan dosa.

Bukankah dunia medis mengajar kita banyak hal?
Seorang yang kecelakaan karena mabuk, tangannya patah beberapa tempat. Ia bertobat, tidak minum lagi, dilepaskan dari kuasa jahat, namun apakah tangannya yang pernah patah bisa normal sebagaimana sedia kala? Belum tentu.

Saya berusaha membedakan antara hubungan seksual sesama jenis yang adalah perbuatan dosa, dengan orientasi seksual sesama jenis yang adalah penyakit (bagi mereka yang sudah minta pengampunan dan pelepasan).

Kita tetap doakan kesembuhan bagi mereka agar bisa normal, tapi jikapun Tuhan memilih untuk memberikan takaran kasih karunia yang berbeda bagi mereka dan mereka tetap dalam keadaannya tersebut, jangan kita menimbulkan tambahan tekanan dan rasa bersalah bagi mereka.
Jika mereka belum dinormalkan Tuhan, biarlah mereka berbuah di area lainnya sambil menjaga hidup mereka agar tidak jatuh dalam dosa.

Jika mereka tidak dapat kawin dengan lawan jenis (karena belum sembuh dari ketertarikan seksual dengan sesama jenis), baiklah mereka tidak kawin karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga.

Tuhan Yesus memberkati.


Bapaku-lah Pengusahanya


Yoh 15:1
Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.


Pada suatu waktu saya diminta untuk sharing tentang pokok anggur di komsel.

Di sore hari sebelum ke komsel, pada saat saya masih di kantor, atasan memanggil saya untuk hadir dalam suatu meeting yang saya tidak wajib hadiri.

Meeting itu isinya jualan dari induk perusahaan
yang saya tidak tertarik beli plus saya juga tidak setuju mereka jualan ke kantor kami. Karena saya tidak setuju dan tidak mau beli maka saya sengaja berlambat-lambat cari-cari alasan untuk tidak datang ke meeting tersebut, itulah sebabnya atasan saya memanggil saya dengan gusar agar segera hadir.

Pada waktu atasan saya memanggil nama saya dengan gusar, di saat itulah saya tiba-tiba ingat ayat di atas.

ROH KUDUS seperti berbicara kepada saya:
'Aku menyediakan kesempatan bagimu untuk berbuah, yaitu buah kesabaran dan kerelaan hati. Kamu tidak memanfaatkannya.'

----Bapa-Kulah pengusahanya-----


Berbuah bukan usaha manusia. Kita tidak bisa mencoba-coba atau berusaha-usaha berbuah, namun sore itu ada perspektif tambahan
yang Tuhan ajarkan ke saya.

Bapa kita di sorgalah
yang bertanggung jawab agar kita berbuah dan Ia akan melakukan segala hal yang diperlukan agar kita berbuah.

Ia memberi kasih karunia (grace), di dalam grace tersebut ada power (semoga nanti ada topik tersendiri tentang ini), ia menyiapkan kita dan menyediakan kesempatan untuk kita mengeluarkan buah.

Segala kejadian dalam hidup kita, yang enak maupun tidak enak, adalah kesempatan
yang Bapa buat atau akan diubah oleh Bapa kita agar di setiap kejadian tersebut kita bisa mengeluarkan buah.

Anda sedang dimarahi karena sesuatu
yang tidak Anda lakukan?
Yes, itu waktu
yang diusahakan Bapamu supaya kamu mengampuni, saat kamu mengampuni itulah kamu berbuah. Bapamu tidak hanya menyediakan waktu dan kesempatan, Ia juga sudah mempersiapkan kamu supaya kamu sanggup melakukannya.

Bapa kita di sorga adalah satu-satunya pihak
yang diberi beban tugas agar kita berbuah dan Ia sudah pasti setia melaksanakan tugasNya.

Kita lah yang jangan menahan buahnya.

Kadang kala bukan kita tidak sanggup berbuah, teman-teman; tapi kita menolak mengeluarkan buah tersebut. Buahnya sudah ada, kemampuan ada tapi kita
yang menahannya.

Saya tau saya bisa sabar, tapi saya ngga mau.
Saya tau saya bisa datang ke meeting tersebut karena saya punya banyak waktu luang, tapi saya cari-cari alasan untuk tidak ksana.
Padahal kalau mau berbuah itu mudah saja, tinggal bangun, melangkah dan jalan. Bapa sudah prepare semua, kita tinggal jalan saja.

Saya berikan sedikit ilustrasi ya para kawan.
Bapa membuat perjanjian baru dengan Anak,
Sang Anak wajib hidup tidak bercacat cela, taat dalam segala hal kepada Bapa. Sang Anak sepakat.
Di pihak Bapa, jika Sang Anak sanggup hidup taat tanpa syarat maka Bapa wajib memberikan Roh KudusNya kepada manusia
yang menerima Sang Anak dan mengupayakan agar semua manusia itu hidup berbuah hingga mereka serupa gambaran Sang Anak. Bapa menerima syarat dan ketentuan tersebut.

Hiduplah Sang Anak dan Ia sempurna dalam ketaatan pada Bapa hingga menyerahkan nyawaNya.
Maka kini saatnya Bapa melaksanakan bagianNya, yaitu mengusahakan agar semua yang Anak berikan kepada Bapa dapat berbuah dan hidup kekal.

That's grace.

Kini Bapa bekerja dalam kita semua mengusahakan buah.
Tugas kita mengeluarkan buah
yang sudah Ia usahakan, jangan ditahan-tahan. Lemesin aja.

ngemeng mah gampang...nulis yo simpel, lu cobain ndiri bisa gak??
Gak bisa friend. Gak bisa sendiri.
Trust our Father. He can do it.

Namun jangan kuatir, selalu ada kesempatan lain bersama Tuhan.
Bapa kita akan selalu berusaha agar kita berbuah dari hari ke hari.

Tuhan Yesus memberkati.


Grace Energizes & Produces


Yoh 1:16
Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia


Kasih karunia (grace) bukanlah barang statis.

What is grace?
Grace adalah kekuatan/power/kemampuan dari Allah untuk menciptakan, menghasilkan, melipatgandakan dan mencapai sesuatu.
Di dalam grace terdapat pengurapan dari Tuhan untuk melaksanakan dan mewujudkan apapun yang Tuhan kehendaki.

Kis 4:33
Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.


Orang-orang melihat kelimpahan kasih karunia karena mereka melihat kuasa Allah bekerja sangat dahsyat.
Orang
yang melimpah dalam grace pasti akan terlihat, tidak mungkin tersembunyi, orang lain pasti akan tau dan menyadari cepat-lambat bahwa kuasa Allah yang memampukan semua itu terjadi.

Kis 14:3
Paulus dan Barnabas tinggal beberapa waktu lamanya di situ. Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan. Dan Tuhan menguatkan berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat.


Kis 20:3
Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya.


2 Kor 1:12
Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.


Grace selalu mengandung kuasa.
Apakah kita berpikir grace hanya 'favor' semata?
No, grace contains power of God.

Jika Tuhan memberikan grace, Ia memberikan kuasaNya.

Luk 1:30
Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.


Grace
yang Maria peroleh memberikannya kuasa sehingga ia sanggup percaya pada perkataan Gabriel, menanggung segala sesuatunya sampai tuntas dan membawa Anak Manusia ke dunia.

Tuhan Yesus, sumber grace, memberikan kepada kita kasih karunia demi kasih karunia.
Yes, progressively. Bukan sekali saja, bukan gubrak semuanya sekaligus melainkan bertahap.

Kasih karunia diberikan bagi kita lalu ditambahkan lagi hingga kita bertumbuh lebih, terus bertambah-tambah lagi sampai akhirnya kita mencapai tujuan iman kita, menjadi segambar dan serupa dengan Anak Allah. 


----kasih karunia demi kasih karunia

Christian life must be progressing.
Hidup persekutuan dan keeratan dengan Allah harus terus meningkat.
That is our destiny untuk semakin mengenal Allah kita.

Pengenalan
yang statis akan Allah bukanlah kenormalan.
Saya yakin sudah selamat?
Yes saya harus yakin tiap hari bahwa saya sudah selamat,
Tapi hanya itu saja?
Lets wait statically until it's time to enter heaven's gate?
That's not how we're designed.

maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.
Ini desain kita. Bikinan pabriknya ya seperti ini.

Paulus berkata:

Fil 3:14
dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.


There are things much more than just knowing we are saved.
Panggilan sorgawi itu sesuatu
yang dikejar sampai berlari-lari.
Panggilan sorgawi itu bertahap, Paulus sebelum ditahbiskan sabagai rasul, ia lebih dulu menjadi pengajar lalu menjabat nabi, sebelum itu ia pembelajar
yang giat.

Dalam hidup bersama Tuhan, kita harus punya sesuatu
yang ingin kita capai, hal yang ingin kita kejar dalam Tuhan.
Kita tidak mengalir seperti air, pokoke diam pasif tunggu kosmik menggerakkan kita.
That's not how we're designed.

We're designed to conquer, to rule, to dominate.
Tuhan memerintahkan Adam untuk aktif menaklukkan.

Bersikap dan bertindak aktif bukanlah dosa, bukan juga kedagingan.
Kedagingan itu bila aktivitas dilakukan untuk membeli perkenanan (favor) atau pembenaran (justification).
We already favored and justified, so we are free to become active.
Active how? Active in grace.

Atau dengan kata lain,
Aktif melipatgandakan grace demi grace.

Saya sudah merasa graceful? Tambahkan lagi.
Kasih karunia demi kasih karunia.

Yak 1:23-24
Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.
Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.


Saat kita membaca Alkitab, kita melihat gambaran ideal diri kita, tapi kita tau juga sekarang ini wajah kita seperti apa. Kita tau apa bedanya. Karena itu kita berdoa, minta pada Sang Pengusaha yaitu Bapa supaya kita menjadi seperti apa
yang ada di Alkitab.

Minta apa?
Minta grace agar apa yang kita baca di Alkitab terjadi dalam hidup kita.

Sesudah kita berbuah, kita minta lagi grace untuk mengeluarkan buah
yang lain, terus bgitu sampai kita kelak tiba pada panggilan sorgawi kita, suatu posisi yang Tuhan tetapkan khusus bagi kita.

Tuhan akan memberikan grace by grace agar itu terwujud dalam diri kita.
Grace by grace equals power by power.

Orang
yang hidup dalam kasih karunia pasti kelihatan.
Grace is power of God that energizes and produces.

Setiap kali Tuhan berikan grace pada seseorang, sesuatu terjadi.
Grace itu kekuatan
yang agresif.

Paulus berkata:

1 Kor 15:10
Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.


Grace energizes and produces works, even more works, abundant works. Grace tidak bisa teronggok saja sia-sia tanpa impact kepada apapun atau siapapun.

Namun Paulus juga tau bahwa semua works itu bukan dari manusia, melainkan dari grace.
Grace harus terus mengalir, producing dan impacting.

Org
yang hidup dalam grace pasti berbuah, pasti terlihat.
Jika tidak berbuah dan tidak terlihat?
Then we pray: My loving Father, give me more grace to bare more fruits.
Pray it everyday.

Tuhan Yesus memberkati kita semua dengan grace yang berlimpah.


Mencerminkan Kemuliaan Tuhan dengan Muka tidak Berselubung


2 Kor 3:18
Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung.
Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.


Pernah lihat cermin?
Apa itu cermin?

Cermin adalah kaca dimana seseorang dapat melihat gambaran dirinya sendiri.
Bahasa gaulnya, cermin itu untuk 'ngaca'.

Ayat di atas sangat luar biasa.
Dikatakan:
....kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka tidak berselubung....

Begini ilustrasinya temen-temen...

Tuhan sedang melihat ke sebuah cermin.
Ketika Tuhan melihat cermin tersebut apa yang Ia lihat? Tentunya Ia akan melihat wajahNya sendiri.


Coba saya ganti dikit ilustrasinya.

Aleph dan Henhen sedang melihat ke sebuah cermin.
Apa yang Aleph dan Henhen lihat di cermin itu?
Tentu wajah Aleph dan Henhen, kan?


Ayat itu mengatakan KITALAH cermin dari kemuliaan Allah.

Pada saat Tuhan melihat kita, Tuhan akan melihat wajahNya sendiri.
Itulah grand-design ilahi. Itulah kewajaran alam semesta, itulah what normally to be.

Adam diciptakan segambar dan serupa Allah.
Artinya, ketika Allah melihat wajah Adam, Allah melihat wajahNya sendiri.
Ketika ciptaan lain melihat Adam, ciptaan lain akan melihat kemuliaan Allah.
Tugas Adam adalah mencerminkan kemuliaan Allah di alam semesta.

Ketika ciptaan melihat Adam:
'Wah...sepertinya Allah sedang lewat nih karena saya melihat kemuliaan Allah.'
Saat ciptaan makin mendekat, makin dekat, makin dekat, ia lihat lagi dengan teliti, ehhh ternyata Adam dan di dalam Adam adalah Allah.

Saat setan-iblis-jin-genderuwo-dedemit melihat Aleph dan Henhen, mereka seolah melihat kemuliaan Allah sedang mendekat. Takutlah mereka semua ingin menyingkir. Dimana ada kemuliaan Allah, di situ ada Allah. Di mana ada Aleph dan Henhen, di situ ada Allah.

Itulah original natural design dari manusia.

So sekarang bagaimana?

Cermin tidak ada gunanya bila tidak ada orang yang berdiri di depan cermin itu.
Cermin tidak akan menunjukkan apapun jika tidak ada orang yang sedang bercermin.

Saat manusia jatuh dalam dosa, manusia (cermin) menyingkir dari Allah sehingga cermin itu tidak berfungsi.
Cermin itupun jadi gelap, hitam, kotor sehingga tidak lagi sanggup menjalankan fungsinya.

Jika kini Allah berdiri di hadapan cermin itu,
yang nampak adalah hitam, gelap, kotor.

Tapi jangan kuatir.
Ayat itu luar biasa.

Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar

Ini keren lho! Keren banget.

Ilustrasi aja ya,
Tuhan sedang berdiri di hadapan cermin hitam, gelap, kotor.
Apa
yang Allah lakukan?
Allah membersihkan cermin itu.
...kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh...

Allah memberikan kemuliaanNya untuk membersihkan cermin itu, progressively, bertahap.
Makin lama kemuliaanNya makin besar.
...dalam kemuliaan yang semakin besar

Sehingga cermin itu bersih, jernih, bagus.
maka kita diubah...

Dan cermin itu kembali menunjukkan wajah Allah, gambar Allah, kemuliaan Allah yang semakin besar dan semakin besar.
...menjadi serupa dengan gambar-Nya

------

Allah yang membersihkan dan Allah yang mengubahkan agar kemuliaanNya bisa nampak melalui kita.

Yang harus dilakukan cermin itu?
Just stand in front of God and keep staying by God while He do all the work.

Bagaimana cara kita melakukannya?
Dekati Dia dan bersekutulah dengan Dia, ngobrol dengan Dia dalam kemerdekaan dan sukacita, ah kalian taulah caranya pdkt ke orang.

Kata kemerdekaan dan sukacita ditekankan karena ayat sebelumnya:

2 Kor 3:17
Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.


Rm 14:17
Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh ROH KUDUS.


Makin kamu merasa merdeka, damai sejahtera dan sukacita, makin cermin itu berfungsi maksimal.

Tuhan Yesus memberkati.


Senin, 02 Juli 2018

Keseimbangan Pemberitaan Injil



Waktu saya pertama kali lahir baru, saya YAKIN 100% pasti masuk surga dan tidak ada apapun yang bisa menggagalkan itu.

Saat saya mulai bertumbuh, banyak membaca, mendengar kotbah dan ikut berbagai ibadah, saya mulai menambahkan syarat-syarat yang Alkitabiah pada keselamatan, antara lain harus berbuah, harus tetap dalam iman, jangan menghujat ROH KUDUS, harus hidup dalam pengampunan, dan lainnya.
Itu semua syarat Alkitabiah.

 
Lama-lama saya condong menganut keselamatan bersyarat, saya mulai kritis terhadap keselamatan pribadi saya, saya mulai berhati-hati dalam segala sesuatu sampai saya menderita holiness-obsessive-compulsion (istilah saya sendiri). 
Jika ada yang tanya, saya akan bilang sudah selamat padahal hati saya sedikit mempertanyakannya.

Akhirnya Tuhan tegor saya:

If you do not believe that YOU ARE SAVED, 
Then you do not believe in me AT ALL. 

Saya jadi memahami (spt kata-kata Wonder Woman - superhero favorit baru saya mengalahkan Batman):

It's what YOU believe (not what you deserve). 
And I believe I'm SAVED (kata-kata saya sendiri)

Dari teguran itu, mantap hati saya bahwa saya sudah selamat.
Apapun kondisi saya saat ini, saya tidak meragukan bahwa saya sudah selamat.

---------

Namun begitu, tegoran Tuhan itu tidak menghilangkan dalam benak saya akan apa saja yang necessary bagi orang-orang Kristen.

All christian must achieve the standard God gave them.

Ya, Tuhan punya standar, punya tujuan untuk hidup kita. Kita harus kesana.
Harus, bukan boleh-ya-boleh-nggak.
StandarNya dinamis dan kita wajib kesana.

Itulah garis akhir perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
Tuh kan bener, wajib kata Paulus.

But we get there already knowing that we are saved.

-----------

Sekarang saat saya sedang menulis tentang keselamatan atau berbicara tentang kehidupan Kristiani, saya berhati-hati agar:

1. Jangan sampai tulisan saya mengurangi keyakinan seseorang bahwa ia sudah diselamatkan. 

Dari segi believe dan faith, keselamatan mutlak sudah diperoleh, ngga bisa diganggu-gugat.
Ukuran kondisi seseorang saat ini tidak bisa jadi indikator ia selamat atau tidak, 
Future is still long way ahead and faith will bring you there so don't lose faith.

Tuhan berkata bahwa kita harus punya iman seperti anak kecil.
Anak kecil sangatlah faithful.
Imannya yang seperti anak kecil, pemikiran kita silakan dewasa.
Kita boleh saja memahami kondisi dan kesulitan, namun iman tetap harus kuat.

Saya memahami orang-orang berhati baik yang memberi peringatan kepada jemaat dengan tujuan agar jemaat tidak binasa. 
Namun demikian, bagaimana pesan tersebut disampaikan akan menentukan apakah jemaat menangkap pesan sesuai tujuan yaitu pertobatan, atau jemaat malah menangkap pesan lainnya bahwa mereka mungkin sedang tidak selamat.

Pesan-pesan tertentu bisa memancing jemaat membandingkan kondisi mereka saat ini dengan keadaan ideal sesuai firman Tuhan, alih-alih jemaat membangun iman ke keadaan ideal, mereka malah turun semangat karena melihat kegagalan hidup saat ini.

Aduh, aku kok sekarang masih jauh dari kebenaran ya, 
Aduh, aku belum bisa begini, aku belum sampai begitu, aku masih maunya ini-ini saja belum sesuai maunya Tuhan.

Adalah WAJAR bahwa manusia selama hidup di bumi tidak akan sempurna karena kesempurnaan itu tidak ada, sesudah mencapai satu tahap akan ada tahap lain di depan, sudah sampai ke depan ternyata ada tahap baru lagi, sudah ke tahap baru dipikirnya sudah tenteram ternyata masih ada yang lebih tinggi, sudah sampai paling tinggi ternyata baru tau di balik awan ada yang lebih.

Selalu ada tahap berikutnya.

Jadi normal sekali kalau kondisi manusia tidak pernah ideal.
Jika kondisi ideal dikaitkan dengan keselamatan yang mungkin hilang, alhasil TIDAK ADA ORANG KRISTEN YANG SUDAH SELAMAT.
Kita jadi tidak beda dengan agama lain, hanya beda nama Tuhan, nama kitab, tata cara dan lokasi ibadah. 
Isinya sama: Kamu belum cukup baik sehingga mungkin tidak selamat.

Keselamatan adalah basic faith.
Sudah beriman ya sudah selamat, titik.
Dari basic itu kita bergerak ke tahap lain.

Bagaimana jika ada orang yang ngeyel, menganggap enteng kasih karunia, meremehkan keselamatan, terus hidup dalam dosa walau sudah Kristen?
Yes, jika ketemu yang seperti itu, jikalau ada, silakan tegor dengan keras bahwa kamu pasti masuk neraka kalau terus begitu (karena memang benar demikian).


Yang membedakan kekristenan dan Yesus Kristus dengan jalan-jalan lain adalah rasa aman. Ada rasa tenang, tenteram dan aman dalam Dia. Damai sejahtera.
Itu jangan sampai hilang.


2. Jangan sampai tulisan saya mengurangi pemahaman seseorang bahwa ia harus mencapai target dan standar yang Tuhan sudah berikan.

Udah selamat, udah aman tenteram, tapi bukan brarti diam dan hanya menikmati. 
Ada tugas, ada finish line yang Tuhan berikan.

Iman adalah energi dan sarana bagi seseorang untuk mencapai standar.
Iman itu hari ke hari terus berkembang. Ukurannya bukan sejauh mana perbuatannya tapi apakah ia punya iman.

Saya udah selamat, oke that's our basic faith.
Berikutnya saya harus berbuah, sekarang masih belum.
Artinya saya harus mengembangkan faith bahwa saya akan berbuah, keep believing, keep faithful, perkatakan terus sampai nanti benar-benar nyata berbuah,
Udah berbuah segini terus tingkatkan iman maka akan berbuah lebih banyak, believe it.
Sesudah itu akan lanjut ke standar berikutnya dan faith menuntun kesana.

Tidak ada batas akhir bagi iman, iman akan terus bertumbuh dari satu target ke target lainnya.

Ada semacam pengajaran yang mengarahkan agar jemaat pasif saja menunggu Tuhan sendiri yang mengembangkan iman kita. Tujuan pengajaran ini agar jemaat tidak jatuh dalam legalisme (membeli perkenanan Tuhan dengan usaha manusia).

Saya tidak sependapat dengan itu.
Siapa bilang kita tidak boleh aktif? Mengapa orang yang mengajar bahwa kita dibebaskan oleh Tuhan malah menghalang-halangi kita untuk mau berbuat bagi Tuhan saking takutnya pada legalisme?

Legalisme kita hindari, paham membeli perkenanan Tuhan kita perangi, tapi jangan batasi perbuatan manusia yang ditujukan untuk memuliakan Tuhan.

Nantinya orang mau melakukan A namun takut apakah A usaha membeli Tuhan, apakah A adalah legalisme. 
Bodo amat. Mau lakukan A ya lakukan saja demi Tuhan, bebaskan diri lakukan apapun untuk Tuhan, jangan kuatir.

Sampai-sampai ada ajaran ekstrim melarang orang minta ampun saat berdoa karena minta ampun adalah tanda kurang beriman pada kasih karunia, karena dianggapnya orang yang minta ampun berarti tidak percaya Tuhan sudah mengampuni di kayu salib.

Kenapa malah jadi membatasi orang?
Menciptakan Taurat baru? Memerangi Taurat lama dengan mendirikan Taurat baru.


Mau doa minta ampun? Lakukan saja untuk Tuhan.
Yang penting hati kita tau bahwa kita sudah diampuni, segala tindakan lahiriah silakan dilakukan.

Iman kita harus aktif, berangkat dari satu titik naik ke titik lainnya,
Selalu ada yang kita kejar.
Saya mau tingkat kedewasaan ini Tuhan, saya imani terus-menerus sampai mencapai,
Sesudah itu saya mau tingkat kedewasaan ini Tuhan, maka imani terus-menerus sampai mencapai.

Tidak pasif menunggu Roh Kudus sendiri yang entah bagaimana tiba-tiba buat kita mencapainya.

---------

Kalau orang mati sebelum bisa mencapai standar bagaimana?
Fine asalkan ia punya faith.
Artinya ia mengarah ke tujuan walau belum sampai kesana.
Urusan upah itu urusan Tuhan.

Bagaimana dengan orang yang sudah lama punya basic-faith tapi tidak progressing faith-nya?
Itu urusan Tuhan, yang pasti Alkitab mengajar bahwa orang Kristen harus bertumbuh.
Kalau sudah lama bersama Tuhan tapi beranjak dari basic-faith atau malah hidup dalam dosa, itu suatu pertanyaan besar.

Masuk neraka? Saya ngga tau.  
Yang saya lakukan adalah reminding dan warning bahwa Tuhan punya tugas bagi dia. 
Dia perlu mengembangkan faith menuju kesana.

Ada lagi sejenis pengajaran yang melarang segala jenis warning, melarang peringatan, melarang kotbah tentang konsekuensi karena takut orang yang mendengarnya jadi hidup terikat Taurat. Mereka berusaha membelokkan segala kalimat peringatan di Alkitab menjadi peringatan bagi non-umat, bukan peringatan bagi Jemaat.

Mengapa membatasi Roh Kudus?
Roh Allah menginsyafkan dunia akan dosa dan penghakiman.

Roh Kudus bisa bekerja dalam hati seseorang melalui peringatan dan penghakiman.

Bedanya kita terhadap agama lain, agama lain menuntut perbuatan dengan energi yang berasal dari diri orang itu sendiri.
Kekristenan menuntut perbuatan dengan energi yang berasal dari iman,
Iman itulah
yang mewujudkan, bukan kekuatan pribadi orang.

Kepastian selamat adalah fondasi yang sangat penting.

-------

Tujuan dari tulisan ini adalah sharing atas pemikiran saya selama ini tentang keseimbangan dalam menyampaikan pesan keselamatan.

Sharing ini dipicu latar belakang kontroversi pengajaran tradisional Gereja dengan pengajaran radical faith yang relatif baru. Ada yang setuju dengan radical grace lalu secara ekstrim memberitakannya, ada yang tidak setuju dengan radical grace lalu secara ekstrim pula menentangnya.

Selama saya membaca Alkitab, selalu ada 2 sisi yang sama benarnya: Ada sisi kasih karunia, ada sisi peringatan.
Jika para rasul menganut radical grace, saya yakin mereka akan memilih menghapus semua peringatan (atau menulis bahwa peringatan untuk dibaca non-jemaat, abaikan saja bagi yang jemaat) karena Roh Kudus pasti mengajar jemaat tanpa memberi peringatan/ancaman.
Jika para rasul menganut kontra-radical-grace, saya yakin mereka akan menghilangkan kasih karunia supaya jemaat selalu ingat kekurangan mereka dari standar Tuhan (jika kamu tidak yakin pasti selamat, kamu akan hidup hati-hati untuk tetap jaga keselamatan).
Tapi kan tidak begitu.

Bagi semua yang baca tulisan ini, kalian yang percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kamu SUDAH DISELAMATKAN. Jangan ragu sedikitpun.

Kamu juga harus mencapai tujuan yang Tuhan miliki buat hidupmu.
Jangan ragu sedikitpun.

Tuhan Yesus memberkati


Senin, 07 Agustus 2017

Penyembah Yang Benar Pastilah...




Yoh 4:20-24
Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."
Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." 

Ada 2 makna yang hendak saya bahas atas nas ini.

Pertama, 
Apakah yang dimaksud dengan '...dalam roh dan kebenaran'?

Untuk membahas ini, kita bisa mengambil sudut pandang antonim alias lawan kata.

Latar belakang kisah ini, 

Yesus Kristus sedang bicara dengan seorang perempuan Samaria tentang doa.
Perempuan ini kemudian membandingkan antara menyembah Allah di gunung vs menyembah Allah di Yerusalem.

Perempuan Samaria itu mempunyai paradigma bahwa menyembah Allah wajib dilakukan memenuhi syarat-syarat spesifik seperti lokasi fisik, urutan protokoler, persembahan yang harus dibawa beserta aturan-aturan lain yang lazim berlaku pada masa tersebut.


Di zaman itu, ketika khalayak hendak beribadah entahkah ke gunung atau ke Bait Suci Yerusalem, mereka wajib memenuhi serangkaian syarat dan ritual.

Seluruh aktivitas ritual dilakukan sepihak oleh manusia agar Allah melihat dari sorga dan berkenan kepada mereka.

Tuhan berkata:
Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal...

Dalam perkataan itu, Tuhan mengoreksi paradigma ibadah yang terdiri dari ritual-ritual dan syarat-syarat harafiah/jasmaniah namun tidak benar-benar mengandung dinamika dengan Allah.

Orang Yahudi/Samaria menyembah Allah berdasarkan apa yang mereka pelajari dari teks, berdasarkan kebiasaan, berdasarkan apa yang mereka pikir akan diterima Allah.
Segala aktivitas itu berjalan sepihak, dari manusia kepada Allah, tidak ada interaksinya, tidak ada dinamikanya sehingga memperkecil kemungkinan seseorang dapat mengenal Allah dalam level personal.

Dengan kata lain, seluruh umat awam Yahudi memiliki tingkat pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang kira-kira sama jika mereka semua semata melakukan ritual yang sama.


Sekalipun orang Samaria menyembah Allah di gunung sebagaimana tradisi ratusan tahun dan sekalipun orang Yahudi menyembah Allah di Yerusalem sebagaimana perintah Taurat, namun mereka tidak benar-benar berhasil mengenal Allah.

Yang berhasil mengenal Allah hanya segelintir orang yang diurapi Allah sebagai Raja, Imam, Hakim-hakim atau Nabi.

Secara antonim, lawan kata dari spirit adalah flesh/daging.

Jika disambungkan dengan konteks, maka menyembah dalam roh dan kebenaran bukanlah menyembah menurut ukuran-ukuran atau syarat-syarat lahiriah yang pada hakekatnya berjalan sepihak dan tidak memberikan dinamika hubungan interaktif dengan Allah yang spiritual. 

Spiritualitas itu tidak ada batasannya, tidak ada rumusannya, tidak seperti daging yang statis. 
Jadi menyembah dalam roh dan kebenaran artinya berinteraksi dengan Allah secara dinamis.

Pintu itu terbuka, Bung!

Mungkin ada orang berkata,
'Hei, Gereja kami sudah mengatur liturgi doa, pujian, penyembahan. Inilah model yang Allah sukai, yang sudah berjalan dari abad-ke-abad, warisan turun-temurun, Allah sudah pasti berkenan jika kita menjalankan tepat sebagaimana yang tertulis.'

Hei jugaaaa,
Tuhan Yesus berkata:
...bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.

Tuhan Yesus sedang membahas ritual penyembahan multi-lapis yang diatur di Taurat,
Tuhan Yesus sedang membahas rangkaian hari-hari raya di Yerusalem yang Tuhan tetapkan sendiri,
Tuhan Yesus sedang membahas tulisan-tulisan yang Allah sendiri sampaikan kepada Musa,
Lalu Tuhan Yesus berkata:
'Bukan, bukan itu lagi. Tidak seperti itu lagi. Saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang yang baru dan berbeda. Yang dulu itu dilakukan ribuan tahun dan kamu tetap menyembah apa yang tidak kamu kenal.'

You see, segala sesuatu yang statis (sekalipun pada masa lalu otentik berasal dari Tuhan sendiri) sudah out-dated, sudah kuno, sudah berlalu jika ritual tersebut tidak membawa seseorang mengenal Allah sampai level personal.

Spirit (roh) itu tidak memiliki bentuk, tidak ada rumusnya, tidak ada metode bakunya, namun nyata impact-nya.

Hal ini membawa kita melangkah lebih lanjut pada bagian kedua.

********

Kedua, 
Apa maksudnya penyembah-penyembah yang benar?

Saya amazed dengan pemilihan kata yang Tuhan lakukan:

Bapa mencari penyembah yang benar, bukan mencari 'penyembahan yang benar'.


Kapan-kapan ketika orang bertanya mengenai nas ini, maka yang mereka tanya adalah:

'Apa dan bagaimana sih penyembahan yang benar itu?'
'Gimana sih caranya menyembah yang bikin Tuhan senang?'
'Apa ya kiatnya agar penyembahan kita berkenan dan diterima Tuhan?'

Penyembahan itu fokus pada rumus, metode, lokasi, cara, benda, barang sampai rangkaian aktivitas.

Yang ada di pikiran penanya adalah:
'Ketika saya sedang melakukan aktivitas penyembahan, apa yang harus saya lakukan agar penyembahan saya diterima dan berkenan kepada Tuhan?'


Jawabannya jelas: Kamu kudu begini-begini saat sedang nyanyi, ucapkan dahulu ini-ini ketika memulai doa, hatimu harus seperti ini-ini sebelum mulai aktivitas, posisi tubuh usahakan begini. pilih lokasi yang begini-begini supaya konsen, dan lain setaranya.

Jangan salah, Tuhan Yesus juga memberi rumus.
Rumus Tuhan:
...penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran

Anda mau menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran?
Anda mau mengenal Bapa secara dinamis interaktif?


Rumus Tuhan:
Jadilah penyembah yang benar, maka Anda otomatis menyembahNya dengan benar.

Jika Anda adalah penyembah yang benar, maka apapun yang Anda lakukan pastilah menjadi penyembahan yang benar. Apapun itu.
Anda bekerja adalah menyembah, Anda duduk adalah menyembah, Anda diam adalah menyembah, Anda bicara dengan kawan juga menyembah, Anda tidur pun menyembah, apapun yang Anda lakukan adalah menyembah jika Anda adalah penyembah yang benar.

Penyembahan yang benar bukan lagu, bukan suara, bukan nyanyian, bukan doa, bukan sorak-sorai, bukan saat di gedung gereja, bukan pada saat teduh saja, tapi segala hal yang Anda lakukan adalah penyembahan yang benar jika Anda adalah penyembah yang benar.

Fokuslah menjadi penyembah yang benar, bukan (sesekali saat tertentu) memberikan penyembahan yang benar.

Menjadi penyembah yang benar berfokus pada hubungan interpersonal, pada proximity (kedekatan) dan konsistensi.

Yes, itulah yang sulit. Saya pun mengalami bahwa itu sangat sulit.

Konsistensi.

Saya juga maunya sesekali memberikan penyembahan yang intim, yang intens, yang dalam, yang memuaskan,

Tapi sesekali memberi penyembahan tidak menjadikan seorang penyembah yang benar.

Penyembah itu konsisten, tekun, terus-menerus dalam roh dan kebenaran.
Artinya, konsisten, tekun, terus-menerus membangun hubungan interaktif yang dinamis dengan Tuhan secara personal. Di dalamnya termasuk konsisten, tekun, terus-menerus hidup benar.

Ya, setiap waktu, setiap teringat oleh kita maka kita berbicara kepada Tuhan, bicarakanlah tentang apapun juga, jangan menahan diri, jangan memisah-misahkan mana topik untuk Tuhan mana topik yg Tuhan tidak suka. Bicara saja kepada Tuhan.
Lambat-laun kita akan mulai (secara tidak sadar) berbicara dengan Tuhan. Tidak selalu audible tentunya, tapi roh kita bisa menangkap sinyal-sinyal dari Tuhan, suatu dorongan halus di hati kita yang mengarahkan kita melakukan apa yang Tuhan mau. Itulah penyembahan yang benar! 

Penyembahan yang benar adalah melakukan kehendak Tuhan. 
Ketika seorang melakukan keinginan Tuhan, itulah penyembahan. 
Ketika seorang konsisten melakukan keinginan Tuhan, dialah Penyembah yang benar.

Maka termasuk di dalam definisi penyembah yang benar adalah seorang yang konsisten berusaha berbuat sesuai keinginan Tuhan.

Mohon maaf kepada para penganut 'extreme-grace', 
Anda mungkin tidak suka membaca kata-kata 'berusaha hidup benar', 
Anda mungkin lebih suka kalimat 'hidup normal saja, nanti Tuhan yang otomatis membuatmu hidup benar'. 
Anda mungkin paranoid kalimat 'berusaha' identik dengan orang meragukan keselamatannya.
Di artikel ini saya terpaksa menggunakan kalimat 'berusaha hidup benar'.

Lakukanlah perbuatan baik dan benar yang Anda bisa lakukan, Tuhan menghargai dan menyukai itu.
Lakukan bukan karena Anda mengejar keselamatan, keselamatan itu sudah milik Anda.
Lakukan karena Anda ingin lebih mengenal Dia, Anda ingin lebih menyelami jalan-jalanNya, Anda ingin lebih menggali hatiNya, Anda ingin terlibat dalam rencanaNya.

Jika Anda menyukai seseorang dan Anda berusaha melakukan apa yang ia lakukan, maka Anda akan mulai mengenal sisi orang itu yang tidak ia tampilkan sembarangan.  
Kita bisa saja mengenal Tuhan secara umum, namun jika Anda mulai berusaha melakukan apa yang Ia inginkan, melakukan apa yang baik dan benar sambil berinteraksi dengan Dia, maka Anda akan mulai mengenal Dia lebih mendalam.

Penyembah yang benar bukan soal rumus atau metode,
Menjadi penyembah yang benar adalah soal hubungan dan upaya konsisten kepada Dia dan bersama Dia.

Kembali pada judul,
Penyembah yang benar pastilah menyembah Dia dengan benar dalam apapun yang dilakukannya.

Tuhan Yesus memberkati.






Faith of God

Markus 11:22 Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah!   Konteks dari ayat ini adalah kisah pohon ara yang dikutuk...