Kamis, 25 Mei 2017
Kerudung - What Is This Really About?
Nas ini bukanlah kontroversi di kalangan Kristen masa kini karena kita semua memahami bahwa nas ini harus disesuaikan dengan relevansi budaya.
Namun begitu, bagi kalangan non-Kristen -khususnya dari kalangan yang senang mempromosikan penutup kepala- nas ini dijadikan alat untuk menyerang kekristenan modern.
Saya tertarik untuk membahas nas ini dengan mengajukan pertanyaan:
Apa sih yang Paulus maksudkan? Apa benar Paulus sekadar membahas persoalan rambut perempuan?
Ini adalah pandangan alternatif dari saya.
1 Korintus 11:2-16
Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.
Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.
Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya.
Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.
Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.
Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.
Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.
Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.
Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.
Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.
Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.
Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?
Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang,
tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.
Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun Jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian.
Perhatikan khususnya ayat ini:
Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki.
Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki
Coba kita renungkan sejenak, ayat di atas sebetulnya bicara konteks apa?
Yes, ayat di atas berbicara dalam konteks keluarga.
Dalam keluarga, laki-laki adalah kepala keluarga yang memimpin istri dan anak-anaknya.
Ayat tersebut bukan memaksudkan soal perempuan mengenakan kerudung.
Jika Susi seorang yatim piatu yang masih single, Budi adalah yatim piatu yang juga single, Susi dan Budi tidak punya hubungan keluarga, apakah dengan demikian Budi adalah kepala dari Susi (berdasarkan ayat ini)?
Tentu tidak.
Budi dan Susi tidak ada hubungannya.
Hanya jika Budi menikah dengan Susi atau Budi merupakan ayah dari Susi, barulah Budi resmi di hadapan Tuhan menjadi kepala dari Susi.
Ketika kita melihat ayat ini dalam konteks keluarga, barulah apa yang Paulus maksudkan menjadi jelas.
Paulus sedang bicara mengenai sesuatu yang prinsipal, bukan sekadar urusan memakai kerudung/tidak, rambut panjang/pendek, kepala botak/berambut.
Paulus tidak sedang menetapkan aturan Taurat baru.
Yang Paulus mau sampaikan dalam nas ini adalah:
Seorang isteri harus tunduk kepada suaminya dan penundukan ini wajib tergambar sampai pertemuan jemaat.
Ketika isteri tunduk dan hormat kepada suaminya maka ia secara rohani sedang memakai tudung kepala yang merupakan tanda wibawa di hadapan malaikat (saya yakin roh-roh jahat pun akan dapat melihat tanda wibawa ini).
Isteri yang tidak tunduk dan tidak hormat kepada suaminya sama seperti perempuan yang dicukur kepalanya (pada masa itu adalah hinaan, pada masa kini adalah keanehan).
Seorang isteri tidak pantas berdoa kepada Tuhan apabila ia tidak dalam keadaan tunduk pada suaminya. Penundukan dan penghormatan pada suami adalah tudung rohani bagi isteri.
Di sisi lain, seorang suami tidak boleh menudungi kepalanya, artinya ia tidak boleh dalam kondisi takut kepada isterinya/berada di bawah bayang-bayang isterinya.
Ini lagi-lagi bukan soal laki-laki boleh tidak menggunakan topi/penutup kepala dalam ibadah.
Seorang suami adalah kepala keluarga yang langsung berada di bawah Tuhan. Ia harus menegakkan kewibawaannya. Ketika ia benar-benar berperan sebagai kepala keluarga maka ia sedang memuliakan kepalanya, yaitu Tuhan sendiri.
Paulus kmudian membandingkan 'penudungan rohani' ini dengan rambut.
Perempuan diberikan rambut sebagai tudung alamiah, jika perempuan tidak berambut (botak) maka ia akan dihina (pada masa itu). Demikian pula jika perempuan tidak mengenakan tudung rohaniah, maka ia menghinakan dirinya sendiri di hadapan para malaikat.
Mengapa Paulus merasa perlu menyampaikan ini ke jemaat Korintus?
Nampaknya jemaat Korintus sedang menghadapi masalah perpecahan, masalah penggolong-golongan dan sepertinya masalah itu ikut masuk dalam hubungan keluarga.
Paulus menegaskan kembali peran perempuan yang harus tunduk pada suaminya di 1Kor 14:34-36. Saya pribadi menduga kemungkinan kaum istri di Korintus bersikap dominan dalam pertemuan jemaat.
Paulus menggunakan contoh yang relevan pada masa itu umtuk menjelaskan tudung rohaniah.
Jikalau Paulus menulis di masa kini dimana urusan rambut panjang/pendek/cepak bagi perempuan sudah tidak jadi masalah, saya yakin Paulus akan membuat contoh akan berbeda.
Demikianlah sudut pandang yang saya hendak sampaikan.
Tuhan Yesus memberkati
Senin, 03 April 2017
Ketawa atau Ngetawain?
Mari kita lihat nas yang menarik ini:
Kej 18:10-15
Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.
Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.
Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?"
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua?
Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki."
Lalu Sara menyangkal, katanya: "Aku tidak tertawa," sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman: "Tidak, memang engkau tertawa!"
Penafsiran umum nas ini adalah Sara ragu jika Tuhan mampu membuat mujizat dari seorang yang mati-haid menjadi mengandung dan melahirkan anak.
Penafsiran itu benar.
Tuhan menjawab Sara bahwa Ia sanggup melakukan hal-hal yang mustahil.
Di sisi lain, saya ingin menawarkan sudut pandang yang sedikit berbeda.
Izinkan saya menyampaikan pandangan pribadi untuk menambah variasi penafsiran.
Kalimat ini menarik perhatian saya:
Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?"
Coba sekarang kita sejenak tidak membayangkan kalimat ini muncul di hati Ibu segala bangsa, coba kita lupakan sejenak peristiwa ini terjadi di hadapan Abraham, seorang pahlawan iman.
Coba sejenak kita andaikan ini terjadi pada orang lain, sebut saja Siti dan Tono (keduanya bukan nama sebenarnya).
Pak Lurah mendatangi Tono dan Tono menyambut hangat.
Pak Lurah kemudian mendoakan agar Tono dan Siti mendapat anak tahun depan.
Seketika itu juga Siti tertawa dan dalam hatinya berkata:
'Hah, emangnya aku masih bisa nafsu? Tono kan sudah tua, aku juga udah tua.'
Anggaplah kita tau bahwa Siti sekalipun sudah tua namun kecantikannya masih menyihir para pria di kampung itu. Seorang camat dan seorang gubenur menaruh minat pada Siti andaikan Siti masih single.
Bayangkan seorang Siti yang masih cantik jelita, yang tidak terlihat tua di mata laki-laki kemudian tertawa dan berkata dalam hati, 'Emangnya aku masih bisa nafsu sedangkan suamiku sudah tua?'
Jika ada yang bertanya, Siti sedang tertawa karena apa?
Saya mungkin akan menjawab dia sedang menertawakan suaminya.
Dengan kata lain, dia sedang meragukan suaminya dapat membangkitkan nafsunya.
Apakah Siti sedang meremehkan suaminya?
Probably.
--------
Sekarang coba kita pelan-pelan kembali pada kisah Abraham dan Sara.
Apakah Sara bukan sedang meragukan Tuhan tetapi meragukan Abraham?
Aneh juga sih reaksi Sara.
Ia spontan mempertanyakan apakah ia masih bisa bangkit birahinya, apakah ia masih bisa menikmati hubungan seksual, dan pertanyaan ini diucapkan di hatinya dengan nada mengejek.
Apakah ada masalah hubungan suami-isteri dalam rumah tangga Abraham dan Sara?
Saya tidak bisa memastikan, saya hanya menduga-duga saja.
Apakah hubungan mereka telah menjadi dingin? Adakah Sara tidak puas?
Sesudah hidup bersama sekian puluh tahun apakah Sara merasa hambar dan sudah menyerah?
Apakah ini alasannya mengapa Sara sengaja memberi Hagar pada Abraham karena Sara sudah tidak bergairah lagi?
Sekali lagi, saya tidak bisa memastikan, saya hanya menduga.
Namun sejenak mari kita anggap memang hubungan suami-istrilah masalahnya.
Anggaplah Sara sudah tidak bergairah pada Abraham, anggaplah ia sudah menyerah karena kehambaran hubungan mereka, anggaplah ia meremehkan suaminya dalam perkara hubungan intim.
Apa yang Tuhan lakukan?
Tuhan sengaja datang kepada Abraham ketika Sara bersamanya.
Tuhan bicara pada Abraham begitu rupa agar Sara dapat mendengarnya.
Selama ini Tuhan bicara pribadi pada Abraham, tidak ada orang lain yang mendengarnya, Sara tidak hadir saat Tuhan berjanji pada Abraham.
Kali ini Tuhan make sure suami-isteri itu sama-sama hadir.
Tuhan meneguhkan janjiNya pada Abraham di hadapan isterinya.
Ini adalah tindakan Tuhan agar Sara mendapat kepastian bahwa Abraham telah Ia pilih.
Saat Sara tertawa, apa yang Tuhan lakukan?
Adakah Tuhan menegur langsung Sara?
Tidak.
Tuhan bicara kepada Abraham lagi.
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua?
Kita bisa melihat bahwa seluruh kisah ini adalah tindakan Tuhan untuk mengangkat otoritas Abraham, untuk mengangkat nama Abraham di hadapan isterinya.
Orang yang kamu ragukan dan tertawakan itulah yang Aku akui dan Aku ajak bicara.
Spontan Sara menjadi takut.
Takut kepada Tuhan dan takut juga kepada suaminya.
Ia menyangkal telah tertawa namun saya yakin sejak saat itu ia tidak akan berani lagi menertawai suaminya.
Kita tau kisah selanjutnya, janji Tuhan digenapi dan Sara melahirkan Ishak.
Ishak artinya 'dia tertawa'.
-------
Apakah pelajaran yang bisa kita lihat dari kejadian tersebut?
Kegairahan akan janji
Sara sudah tidak lagi bergairah menanti penggenapan janji Tuhan atas dirinya. Ia telah 'mempertanyakan' dan kehilangan semangat. Salah satu tandanya ia mendorong orang lain untuk menggenapi janji yang harusnya miliknya.
Bila kita mendapat janji dari Tuhan dan sekian waktu telah berlalu, adakah gairah kita hilang?
Ketika kita mendengar lagi janji itu apakah kita ngetawain dalam hati dan berkata: 'Sudah tidak bergairah'.
Janji itu tidak lagi bernyala-nyala dalam hati kita.
Elia berdoa sampai 7 kali agar hujan turun, kesungguhan Elia pada doa ketujuh tidak kalah hebat dari doa pertama. Jika harus 70 kali berdoa, saya yakin Elia tetap bersungguh hati.
Janda miskin tidak menurun semangatnya untuk terus-menerus merongrong hakim yang lalim agar berlaku adil terhadap kasusnya.
Pintu akan dibukakan bagi sahabat yang pantang menyerah mengetuk pintu pada malam-buta untuk meminta roti.
Namun begitu, saya pribadi memahami dan mengalami bahwa pudarnya kegairahan menanti janji Tuhan adalah alamiah bagi manusia manapun.
Tuhan menyindir Sara melalui Abraham tapi Tuhan tidak memarahi dia.
Tuhan justru memulihkan Sara, bukan membatalkan janjiNya.
Saat kita mulai kekurangan gairah menanti penggenapan janji, marilah kita bicara apa adanya kepada Tuhan.
Jangan takut.
Ialah yang meneguhkan kita. Ia tau kondisi hati kita.
Tuhan datang langsung memulihkan
Kisah ini menunjukkan kasih karunia yang luar biasa dari Tuhan kepada manusia.
Tuhan datang langsung kepada Abraham dan Sara.
Anda tau apa tandanya bahwa Anda benar-benar mendengar janji Tuhan?
Salah satu tandanya adalah Tuhan berurusan secara pribadi dengan kamu sebelum janjiNya terwujud.
Dengan kata lain, akan terjadi perubahan paradigma, perubahan pola pikir, perubahan hati sebelum janjiNya terwujud, bukan sesudah janjiNya terwujud.
Mewujudkan janji itu mudah bagi Tuhan, tapi memulihkan, memperbaiki dan mengarahkan hati orang itulah pekerjaan utama Tuhan.
Apa yang membuat Tuhan sampai datang langsung kepada Abraham saat Sara ada di sana?
Karena Ia peduli pada Sara, Ia mengasihi Sara.
Ia ingin agar mereka dapat mendapat pleasure sambil menggenapi janji Tuhan.
Sara bertanya soal birahi? Nah Tuhan bangkitkan itu pada dia agar mereka menantikan janji Tuhan dalam kesenangan.
Bikin orang hamil itu mudah bagi Tuhan, tapi Ia ingin orang menikmati prosesnya dan bertumbuh dari proses tersebut.
Belakangan sesudah Ishak lahir, Sara benar-benar tertawa, bukan tawa sinis tapi tawa bahagia.
Kej 21:6-7
Berkatalah Sara: "Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku."
Lagi katanya: "Siapakah tadinya yang dapat mengatakan kepada Abraham: Sara menyusui anak? Namun aku telah melahirkan seorang anak laki-laki baginya pada masa tuanya."
Tuhan berinisiatif
Kadang orang bisa merasa berbeban berat sendirian saat ia menanti janji Tuhan.
Ia mungkin merasa seolah pewujudan janji Tuhan bergantung sepenuhnya pada dirinya sendiri: pada apa yang ia lakukan atau tidak lakukan, pada kesetiaan dan ketekunannya sendiri.
Kisah Abraham dan Sara tidak menunjukkan demikian.
Penggenapan janji Tuhan tidak gagal karena Sara ragu.
Tuhan tidak tarik janjiNya, Tuhan bahkan tidak mencari pengganti.
Tuhan tidak pilih Hagar dan tidak pilih Ismael.
Saat Sara ragu dan menyerah, Tuhan inisiatif datang memulihkan dia.
Salah satu hal yang membuat orang berbeban berat menanti janji Tuhan karena ia merasa segala sesuatu tergantung di pundaknya sendiri.
Yang menggenapi dan mewujudkan janji Tuhan adalah Tuhan, bukan manusia.
Rasa gagal, tertuduh, terdakwa bisa membayangi seseorang hingga ia tidak menikmati hidup.
Yoh 10:10
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Jika Anda merasa diberi janji oleh Tuhan, jangan berbeban berat sendirian, jangan merasa janji itu bergantung hanya kepada Anda. Berjalanlah bersama Tuhan.
Ketika Anda mulai kurang gairah, Ia akan mendatangi Anda.
Ketika Anda mulai kehilangan fokus, Ia akan mengingatkan Anda.
Saya pernah mengalaminya, ketika saya mulai ragu akan visi yang Tuhan berikan, justru Ialah yang mengingatkan saya dengan satu dan lain cara.
Sebenarnya nih, jika Tuhan berjanji dan tidak terjadi, itu tanggung jawabnya di Tuhan lho, bukan manusianya, hanya kadang kita takut kualat berpikir demikian.
Kesehatian dan penghormatan
Karena ini kisah suami-isteri, maka kita melihat di sini bahwa janji Tuhan digenapi dalam kesehatian.
Kesehatian tersebut dibarengi dengan penghormatan kedua belah pihak.
Sesudah kejadian tersebut, rasa hormat Sara semakin besar pada Abraham.
Abraham pun saat itu pasti tersadar bahwa isterinya bermasalah dengan janji Tuhan.
Saya yakin sejak saat itu setiap kali mereka berhubungan, mereka teringat peristiwa ini.
Mereka lakukan dengan passion. Sara kemudian benar-benar mendapat pleasure.
Tuhan memperbaiki cara pandang Sara kepada Abraham.
Ya, Tuhan bisa saja tidak usah pusing dengan cara pandang Sara kepada Abraham.
Bukankah Sara tetap wajib taat?
So bisa saja Ishak lahir tanpa perlu perubahan paradigma Sara.
Begitu juga pertanyaan Tuhan membukakan sesuatu yang tidak diduga sebelumnya oleh Abraham. Mungkin Abraham berpikir Sara baik-baik saja, nurut-nurut saja, oke-oke saja padahal dalam hatinya tidak.
Pertanyaan Tuhan kepada Abraham mengingatkan dia atas tanggung jawabnya kepada isteri, termasuk tanggung jawab terhadap apa yang ada di hati isterinya terhadap dia.
Sekali lagi, Tuhan mau mereka menikmati prosesnya, bukan hanya dapat hasilnya.
Tuhan Yesus memberkati.
Selasa, 28 Maret 2017
Serangan Balik?
Dalam dunia olahraga terutama di sepak bola, kita mengenal istilah serangan balik.
Serangan balik terjadi ketika kesebelasan yang tadinya diserang mampu membendung serangan lawan lalu tiba-tiba dengan cepat mampu menyerang dan menembus batas pertahanan lawan.
Kecepatan tempo serangan balik seringkali membuat lawan panik, tidak sempat menyusun pertahanan, terlambat menutup celah dan berbuat kesalahan sendiri.
Intinya, serangan balik hanya akan merugikan kesebelasan yang lengah menjaga pertahanan selagi asyik menyerang.
Dalam dunia doa syafaat rupanya kita mengenal pula istilah serangan balik (maksudnya serangan balik dari kuasa gelap).
Pengertian praktisnya adalah kuasa gelap berbalik menyerang dan sukses merugikan pendoa syafaat atau orang-orang dekatnya pada saat/sesudah pendoa tersebut melakukan doa syafaat.
Kira-kira seperti ini prakteknya:
Pendoa berdoa peperangan bagi kotanya.
Segera sesudah selesai berdoa, tiba-tiba pendoa ini mengalami kecelakaan (atau misalnya saudaranya mengalami kecelakaan), maka pendoa ini disebut mengalami serangan balik.
Berdasarkan observasi penulis yang terbatas (mohon dikoreksi jika salah), tindakan yang umumnya dilakukan pendoa untuk mencegah serangan balik adalah berdoa menolak serangan balik di dalam nama Yesus Kristus pada akhir sesi doa syafaat.
Saya pribadi tidak bermasalah dengan praktek tersebut, saya pun pernah menerapkannya sesudah doa syafaat, namun izinkan saya mengambil waktu membahas hal ini lebih lanjut.
*********
Hidup adalah peperangan rohani
Saya pikir semua orang Kristen menyadari bahwa kita bermusuhan secara langsung dengan kuasa gelap.
Kuasa gelap tidak suka Anda beriman pada Kristus. Setiap saat kuasa gelap akan berusaha menjatuhkan Anda atau mengurangi iman Anda atau membuat Anda suam-suam atau mengalihkan pandangan Anda dari Kristus.
Intinya, Anda pasti diserang setiap hari oleh kuasa gelap dengan satu dan lain cara.
Jika Anda berjaga-jaga dan gagal diserang, maka kuasa gelap akan menyerang orang-orang di sekitar Anda.
Jika kita diserang setiap hari, bukankah istilah serangan balik jadi terdengar kurang tepat?
Target Buruan
Kita tau institusi penegakan hukum seperti Interpol, FBI hingga kepolisian kita mempunyai DPO (Daftar Pencarian Orang).
Daftar ini memuat nama-nama yang paling dicari dan diburu pihak berwenang. Yang masuk daftar ini adalah pelanggar hukum. Daftar ini ada rankingnya.
Yang berada di ranking tertinggi adalah yang paling dicari, yaitu nama-nama yang melakukan pelanggaran hukum terberat atau berpotensi melakukan pelanggaran hukum berat di masa depan.
Aparat berwenang akan mengeluarkan sumber daya lebih besar dan waktu lebih banyak untuk meringkus mereka yang ada di ranking atas.
Hal yang serupa terjadi di dunia pelayanan.
Semakin tinggi kerusakan yang ditimbulkan seorang terhadap kuasa gelap, semakin intens pula upaya kuasa gelap untuk menjatuhkan orang tersebut.
Jika Anda pendoa dan pelayanan Anda merusak kuasa gelap secara signifikan, maka kuasa gelap akan meletakkan nama Anda di top list, menyerang Anda lebih intens dan berusaha menjatuhkan Anda setiap saat.
Lagi-lagi pemahaman tersebut menjadikan istilah serangan balik nampak kurang tepat karena setiap saat orang Kristen akan diserang.
Masalah Pertahanan
Dalam sepakbola, sebuah serangan balik selalu melibatkan kelengahan, kurang sigap interception (pencegatan), terlambat menyusun pertahanan dan melakukan kesalahan-kesalahan sendiri.
Tidak akan terjadi serangan balik jika pemain waspada bertahan sekalipun asyik menyerang.
Saya perhatikan, istilah serangan balik biasanya dilontarkan ketika timbul kerugian.
Jika tidak ada kerugian/masalah maka istilah itu tidak akan disebutkan.
Kita pasti diserang setiap hari,
Jadi apa bedanya serangan saat tidak dalam sesi doa syafaat dengan serangan tepat sesudah sesi doa syafaat?
Tidak ada bedanya.
Jika seseorang menderita kerugian tepat sesudah doa syafaat, mengapa ia langsung menyebutnya akibat serangan kuasa gelap? Apa bedanya jika ia kerugian pada saat tidak dalam sesi doa syafaat?
Jikapun itu serangan kuasa gelap, bisakah terjadi kerugian jika seseorang berjaga-jaga dan waspada?
Very unlikely.
Jadi menurut saya ini bukan masalah serangan balik atau serangan normal, bukan masalah kuasa gelap atau bukan kuasa gelap, ini urusan waspada berjaga-jaga.
Pada prinsipnya, apabila seorang berjaga-jaga maka ia tidak menderita kerugian dari kuasa gelap walaupun ia tetap diserang setiap saat.
Jikapun ada kerugian, itu belum tentu kuasa gelap.
Pernah suatu saat saya sedang sendirian doa keliling monas dengan motor.
Mata saya terfokus pada tugu monas sambil sesekali melihat ke arah jalan, kebetulan waktu itu hari libur sehingga sepi. Saat sedang asyik berdoa, tiba-tiba saya terguncang cukup keras, saya menabrak bemper belakang sebuah taksi. Saya tau taksi itu berjalan di depan saya, tapi saya tidak mengira taksi itu melambat dan menepi mencari penumpang.
Saya nyaris jatuh dari motor, beruntung motor saya masih bisa dikendalikan karena saya mengendarai dengan lambat. Tangan saya akhirnya terkilir. Beruntung sopir taksi tidak marah dan tidak minta ganti rugi, ia tampak tidak terlalu pusing dengan tabrakan tersebut.
Apakah itu serangan balik karena saya mendoakan monas seorang diri?
Ataukah itu kelalaian saya yang tidak melihat jalan, karena saya tidak waspada?
Bisa saja saya berkata bhw setan membisiki sopir taksi agar ia tiba-tiba melambat dan menepi, tapi apakah saya akan menabrak taksi itu jika saya waspada melihat jalan?
Saya pikir teman-teman tau jawabannya.
Bagaimana dengan serangan kepada keluarga atau orang dekat?
Ya, kuasa gelap pasti akan menyerang keluarga dan orang dekat kita,
Namun bukankah kita juga setiap hari mendoakan mereka agar dilindungi Tuhan?
Lalu apa bedanya terjadi kerugian atas mereka sesudah sesi doa syafaat dengan kerugian saat tidak ada sesi doa syafaat?
Harusnya sih tidak ada bedanya.
Ketenangan Jiwa
Tidak dapat dipungkiri kita semua melakukan hal-hal tertentu agar jiwa kita merasa tenang.
Dalam konteks doa syafaat misalnya kita tau Bapa pasti memberkati kita namun kita tetap melakukan doa berkat. Kita tau darah Yesus Kristus menghidupi kita namun kita tetap meminta ditutup-bungkus darah Kristus, kita tau Allah maha-hadir namun kita tetap minta Allah hadir di tengah-tengah kita.
Hal-hal itu redundant namun juga tidak salah untuk dilakukan.
Hal-hal itu bukan untuk Tuhan tetapi untuk manusia agar hatinya tenang.
Doa menangkal serangan balik menurut saya redundant.
Selama seorang berjaga-jaga untuk dirinya dan keluarganya, tidak akan ada kerugian akibat serangan kuasa gelap.
Meski begitu, untuk menenangkan hati dari para pendoa, tidak ada salahnya berdoa menolak serangan balik kuasa gelap.
Sesudah doa menolak serangan balik, maka orang merasa lebih tenang dan hilang kebimbangannya. Kebimbangan yang hilang membuat orang itu tidak membuka celah.
Jikapun ada kerugian apapun maka ia less likely menghubungkan itu dengan serangan kuasa gelap.
Dalam sesi doa syafaat, saya pun akan mengucapkan doa menolak serangan balik kuasa gelap jika saya ingat mendoakan hal tersebut.
Doa itu tidak mandatory karena Allah Bapa kita tau menjaga anak-anaknya, tiada kutuk yang dapat menimpa kita tanpa alasan serta tiada senjata yang ditempakan kita akan berhasil.
Ams 26:2
Seperti burung pipit mengirap dan burung layang-layang terbang, demikianlah kutuk tanpa alasan tidak akan kena.
Yes 54:17
Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba TUHAN dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku, demikianlah firman TUHAN.
Tuhan Yesus memberkati
Langganan:
Postingan (Atom)
Faith of God
Markus 11:22 Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah! Konteks dari ayat ini adalah kisah pohon ara yang dikutuk...
-
Tema perpuluhan adalah tema kontroversial, karenanya menarik untuk dibahas. --------- Latar Belakang Saya berjemaat di Gereja karisma...
-
Markus 11:22 Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah! Konteks dari ayat ini adalah kisah pohon ara yang dikutuk...